Langsung ke konten utama

Cerita Dua Kerbau Yang Tak Mau Mengalah

Hari Minggu Adalah Hari Libur Untuk Anak Sekolah. Banyak anak sekolah memanfaatkan hari libur dengan bermain dan bersantai. Namun tidak bagi joko, Ia memilihuntuk membantu ayahnya bekerja disawah. Sejak pagi hari joko sudah berangkat bersama ayahnya kesawah dengan membawa peralatan yang dibutuhkan untuk mencangkul dan membajak.

Pak Imam adalah seorang pembajak sawah di kampung joko. Ia memiliki seekor kerbau yang besar dan kuat. Kerbau itu biasa digunakan untuk membajak sawah. Ayah joko dan pak imam telah bersepakat kalau hari ini akan membajak sawah menggunakan kerbau pak imam.

Tak lama berselang, pak imam datang dengan menuntun kerbaunya. Ia langsung bekerja untuk membajak sawah menggunakan kerbaunya itu. Sedangkan ayah joko mencangkul tanah hasil bajakan pak imam. Joko hanya melihat dari dangau (Pondok yang terbuat dari jerami, dan biasanya berada disekitar sawah) Sambil membereskan makanan untuk makan ayah dan pak imam.

Hari telah siang, matahari sudah berada diatas kepala. Cuaca hari ini sangat panas. Pekerjaan membajak sawah pun telah selesai. Ayah dan pak imam beristirahat di dangau sambil memakan makanan yang dibawa joko dari rumah.
Setelah semuanya selesai, mereka pun kembali pulang. Mereka melewati jalan setapak. Jarak antara rumah dan sawah memang agak jauh, karena sawah terletak diujung kampung, di dekat sebuah sungai.

Kerbau pak imam berjalan didepan sedangkan ayah ayah, pak imam dan joko berjalan bengikuti dibalakang. Si kerbau memang tahu jalan pulang dan sudah terbiasa melewati jalan itu sehingga tidak mungkin tersesat. Pak imam pun tidak perlu menuntunnya.

Si kerbau berjalan dengan santai. Pak imam, ayah joko dan joko berjalan sambil berbincang-bincang. Lalu, Sampailah mereka disebuah jembatan bambu yang sempit diatas sungai. jembatan bambu itu hanya bisa dilewati oleh satu orang atau seekor hewan. Jika kebetulan ada dua orang yang berpapasan maka salah satunya haruslah menunggu.

Tanpa disangka, di ujung jembatan sana ada seekor kerbau juga yang akan melewati jembatan. Namun apa boleh buat, dua kerbau yang berlawanan arah itu terlanjur berjalan menuju ke tengah jembatan. Keduanya tidak mau mengalah dan tidak mau mempersilahkan salah satunya salah satunya untuk berjalan lebih dulu.

Jarak kedua kerbau itu semakin dekat. Karena keduanya tidak ada yang mau mengalah maka terjadilah saling dorong. Keduanya sama-sama berukuran besar dan kuat. Mereka saling dorong dengan kepala dan tanduknya. Keduanya terlihat seimbang dalam kekuatan.

Lama-lama jembatan bambu itu tidak kuat menahan beban dua ekor kerbau yang sama besar. Krek, krek, krek...bambu jembatan patah satu persatu dan jembatan pun roboh. Byur! Dua kerbau itupun jatuh kesungai dan hanyut terbawa arus. Pak imam segera terjun kedalam sungai untuk menyelamatkan kerbaunya. Beruntung kerbau tersangkut disebuah batu besar. Kedua kerbau itu basah kuyup tapi selamat. Mereka merenungi nasibnya. Melihat kejadian itu ayah berkata kepada joko, "lihatlah nasib kedua kerbau itu. Mereka jatuh dan hanyut terbawa air. Ini disebabkan karena mereka tidak ada yang mau mengalah dan tidak mempersilahkan salah satunya untuk lewat terlebih dahulu. Mereka memaksakan untuk berjalan melewati jembatan secara bersamaan. Padahal jembatan sangat sempit hanya cukup dilewati oleh satu kerbau. akhirnya mereka menanggung akibatnya. Kalau saja diantara mereka ada yang mau mengalah maka tidak akan terjadi kejadian ini." Joko mengangguk tanda setuju.

Pesan Teladan :

  • Mengalah untuk menang.
  • Tidak baik memaksakan kehendak itu akan menimbulkan bahaya.
  • Bersabar dalam segala hal akan membuat kita untung.