Langsung ke konten utama

Dongeng Tikus Sang Penyelamat

Singa adalah binatang yang paling buas dan dikenal sebagai raja hutan. Semua binatang tunduk dan takluk padanya. Dia berbadan besar, berambut panjang, bertaring dan berkuku tajam. memiliki auman yang sangat keras dan menakutkan. Pantas saja kalau semua binatang dalam hutan takut padanya. Singa adalah pemangsa, petarung, dan tidak ada yang dapat mengalahkannya. Dialah Singa si raja hutan.

Suatu Hari sang singa sedang terlihat santai dibawah pohon yang rindang. Ia sedang istirahat setelah merasa kenyang, Karena ia baru saja memangsa seekor rusa yang cukup besar. Sesekali ia mengaum dengan auman yang sangat keras dan menakutkan. Sesekali ia sendawa yang menunjukan kenyang. Sesekali juga ia terlihat menguap Tanda mengantuk. Tak lama, ia pun tertidur. Kemudian terlelap dan tidak ingat apa-apa.

Ketika Sang singa sedang terlelap tidur kemudian datanglah seekor tikus kecil. Si tikus terlihat sangat lelah karena sudah berkeliling mencari makanan untuk makan siangnya. Ia berteduh dibawah pohon rindang tepat disebelah singa yang sedang terlelap tidur. Walaupun ia sedikit kaget, namun ia merasa tenang karena singa sedang tertidur. Sesaat kemudian ia berkata dalam hatinya, " Wah kesempatan nih, mumpung singa sedang tidur aku akan mengganggunya sebagai balasan karena ia suka mengganggu binatang kecil seperti diriku".
Memang, selama ini sang singa tidak pernah pilih-pilih. Ia mengganggu dan memangsa baik binatang kecil maupun besar. Si tikus merasa inilah kesempatan baginya untuk membalas kekesalannya pada singa, Si raja tega.

Tidak berpikir lama, si tikus naik keatas badan singa yang sedang tidur. Tikus menari-nari diatas badan singa dan kepala singa, berjalan mondar-mandir kesana kemari. Cit, cit, cit, suara tikus tanda senang karena sudah berhasil mempermainkan dan memberi rasa geli pada singa. Begitu seterusnya. Karena merasa terganggu dan merasa geli, singa pun terbangun dari tidurnya. Singa bangun dari tidurnya dengan mata merah dan sangat marah. Ia merasa telah dipermainkan oleh seekor tikus. Tanpa pikir panjang sang singa mengamuk dan berhasil menangkap tikus yang tidak sempat kabur dan menyelamatkan diri.

Singa mengaum dengan sangat keras dan menakutkan, Ia berkata, "Dasar binatang nakal! beraninya kau menggangguku yang sedang tidur." Dengan sekuat tenaga singa mencengkram si tikus dengan menunjukan taringnya yang tajam. Lalu ia berkata lagi dengan mata melotot, "aku tak akan melepaskanmu wahai tikus kecil nakal. Engkau sudah berani mengganggu tidurku dan menginjak-injak badanku." Cit, cit, cit, tikus menggerakan badannya sambil memberontak. Ia berkata, "Ampun, ampun tuan. Maafkan aku yang telah mengganggu yang telah mengganggu tidurmu, Aku mohon lepaskan aku." Sang singa tetap mencengkram badan si tikus. Aumannya membuat tikus takut dan taringnya yang tajam membuat tikus pasrah. Si tikus berkata sambil memelas, "Aku hanyalah seekor tikus kecil. Tidak memiliki kekuatan apapun dan tidak dapat mengalahkan singa si raja hutan. Tapi perlu diingat wahai singa yang gagah, kalau engkau memakanku, engkau tidak akan merasa kenyang karena tubuhku kecil dan dagingku sedikit." Tikus berkata sambil menangis.

Melihat tikus menangis, singa pun merasa sedih dan kasihan pada si tikus. Dalam hatinya singa berkata "Benar juga...tikus kan binatang yang kecil dan dagingnya sedikit. Pasti tidak mengenyangkanku apalagi aku baru saja memakan seekor rusa besar dan masih merasa kenyang." Setelah berulang kali berfikir, singapun melepaskan si tikus.

Tikus berlari kencang meninggalkan singa. Ia takut kalau singa berubah pikiran dan memakannya. Tikus merasa bersyukur karena selamat dari marabahaya dan tidak dimangsa singa.

Seminggu setelah peristiwa itu, si tikus kembali ke pinggiran hutan untuk mencari makan siangnya. Ia mondar mandir kesana kemari mencari apa saja yang dapat dimakan. Ketika sedang asyik makan, ia mendengar samar-samar dari kejauhan "tolong,tolong, tolong aku...!" Tikus pun menghampiri sumber suara, Setelah dekat dan terlihat jelas, suara minta tolong itu berasal dari singa yang terperangkap dalam jaring seorang pemburu. Auman singa sangat keras dan terdengar kemana-mana.

Tikus mendekat sambil berkata, "wah, kasihan juga singa terperangkap dan tidak bisa melepaskan diri. Padahal seminggu yang lalu ia melepaskanku dan tidak memangsaku." Ternyata tikus masih ingat kejadian seminggu yang lalu. Tak lama tikus pun berkata, "Wahai singa, Kemarin engkau telah melepaskanku dan tidak memangsaku. Oleh karena itu engkau akan ku lepaskan dari jeratan ini."

Mendengar perkataan dari si tikus, singa menjawab, "Hai tikus, engkau adalah binatang yang kecil. Mana mungkin engkau bisa menolongku?"

Dengan sombongnya, sang sing mengaum tanda tidak percaya dan meremehkan si tikus. Tapi tikus tidak sakit hati walaupun singa menghina dan merendahkannya.
Ia langsung menggigit tali-tali jaring dengan giginya yang tajam satu persatu, sedikit demi sedikit, jaring perangkap tersebut lepas dan singa pun bebas...

Dengan menahan rasa malu, singa pun mengucapkan terima kasih kepada tikus yang telah menolong dan menyelamatkannya. Kemudian singa berkata "Aku tidak menyangka kalau binatang kecil sepertimu bisa menyelamatkanku dari jeratan seperti ini. Maaf aku telah menghina dan merendahkanmu, wahai tikus sahabatku."

"Dalam kehidupan ini tidak ada gunanya bersikap sombong dan merasa paling kuat. Kekuatan dan kelebihan itu seharusnya digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi yang lain. Tuhan menciptakan semua binatang dengan memberikan kelebihan dan kekuatan masing-masing," tikus menjawab sambil tersenyum.

Pesan Teladan :

  • Tidak baik bersikap sombong, menghina atau merendahkan orang lain.
  • Setiap makhluk yang diciptakan Allah SWT memiliki kelebihan dan kekuatan masing-masing.
  • Kelebihan dan kekuatan yang dimiliki akan lebih baik jika digunakan untuk hal-hal yang baik dan positif